-
Ruangan Masih Bertabur Ornamen Buddha
Posted on April 22nd, 2009 2 commentsBuddha Bar Ganti Nama
Ruangan Masih Bertabur Ornamen Buddha
Butuh izin dari pemegang lisensi Buddha Bar di Prancis untuk melepas ornamen Buddha.
Selasa, 21 April 2009, 14:41 WIBVIVAnews - Meski telah berganti nama menjadi Bataviasche Kunstkring, Buddha Bar tetap membiarkan ruangannya dipenuhi ornamen Buddha.
Manager Operasional Buddha Bar, Henry Marheroso, beranggapan ornamen tersebut bagian dari keindahan ruang usahanya. “Kami belum ada rencana mengubah ornamen yang sudah terpasang di sini,” ujarnya, Selasa 21 April 2009.
Lagipula, kata Henry, untuk melepas patung-patung Buddha dan ornamen yang telah terpasang membutuhkan izin dari pemegang lisensi Buddha Bar di Prancis. “Kami masih menunggu keputusan dari mereka (pemegang lisensi),” ujarnya.
Pantauan VIVAnews, satu patung Buddha berukuran besar masih terpajang di salah satu sudut di lantai 2. Sedangkan patung dengan ukuran kecil bertaburan menghiasi dinding.
Mengenai pergantian nama, manajemen Buddha Bar di Indonesia sebenarnya juga masih harus menunggu keputusan dari Prancis. Namun, hal itu mendesak dilakukan untuk meredam gejolak di tanah air. Lagipula izin usahanya juga telah dicabur Dirjen HaKI pada 15 April lalu.
Ketua Umum Generasi Muda (Gema) Buddhis, Ronny Hermawan, meminta kaum Buddha menyelesaikan masalah ornamen dengan musyawarah. Ia menyarankan masalah itu diselesaikan dalam Konferensi Agung Sangha Indonesia. “Karena masalah ornamen berkaitan dengan masalah akidah agama Buddha,” ujarnya.
Buddha Bar merupakan usaha waralaba yang berpusat di Prancis. Di Jakarta, lisensinya dipegang PT Nireta Vista Creative. Bar mewah itu juga ada di sejumlah kota besar dunia seperti Dubai, Kiev, Dublin, New York, dan New York.
• VIVAnews
Pipiet Tri Noorastuti, Zaky Al-YamaniSumber:
http://metro.vivanews.com/news/read/51138-ruangan_masih_bertabur_ornamen_buddha -
Solusi Konflik Buddha Bar ala Marcell
Posted on March 25th, 2009 No commentsPenyanyi beragama Buddha itu bilang, namanya bisa diganti. Atau dibubarkan sekalian.
Rabu, 25 Maret 2009, 07:28 WIB
Anindhita Maharrani, Gestina Rachmawati, Windratie
VIVAnews - Forum Anti Buddha Bar tak nyaman dengan keberadaan Buddha Bar. Tapi, sebagai penganut agama Buddha, penyanyi Marcell tenang-tenang saja.
Namun suami Rima Melati Adams itu hati-hati mengomentari isu protes cafe waralaba Prancis tersebut. “Secara konsep itu memang bertentangan terhadap apa yang saya imani,” kata Marcell di ulang tahun ‘Dahsyat’ di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa 24 Maret 2009.
Teman duet Shanti di ‘Hanya Memuji’ itu tidak mau mengumbar komentar. Pasalnya, Marcell memiliki banyak teman yang jadi bagian manajemen Buddha Bar. Sementara, keyakinannya sebagai pemeluk agama Buddha membuatnya perlu hati-hati berbicara.
Forum Anti Buddha Bar, bebas mengutarakan pendapat. Namun bagaimana jlan keluar terbaik menurut pria 31 tahun itu?
Jalan yang terbaik bagi Marcell, bisa ditempuh dengan bermacam cara, kendati itu keputusan terburuk sekalipun. Marcell bilang, bisa dengan mengganti nama. Atau, bahkan dengan membubarkan Buddha Bar.
Tapi sekali lagi, keputusan win-win solution harus diterapkan. Sebaiknya tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Komentar terakhir Marcell, “Untuk menjaga stabilitas mending diganti aja namanya.”
Marcell adalah seorang vegetarian dan penganut agama Buddha dengan nama upasaka Medhakumara. Marcell ditahbiskan secara resmi sebagai penganut agama Buddha pada upacara peringatan Hari Asadha tgl 29 Juli 2007 di Candi Mendut oleh Bhante Sri Pannavaro Mahanayaka Thera.
Sumber:
http://showbiz.vivanews.com/news/read/43601-solusi_konflik_buddha_bar_ala_marcell -
Rp 100 Miliar untuk Renovasi Buddha Bar
Posted on March 25th, 2009 No commentsDari sisi penggunaan bangunan bersejarah, pengelola Buddha Bar tidak menyalahi aturan.
Rabu, 25 Maret 2009, 16:05 WIB
Ismoko Widjaya, Zaky Al-YamaniVIVAnews - Sepuluh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta mendatangi restoran Buddha Bar. Dari sisi penggunaan bangunan bersejarah, pengelola Buddha Bar tidak menyalahi aturan.
“Kabarnya, pengelola Buddha Bar sudah menghabiskan dana Rp 100 miliar untuk merenovasi bangunan,” kata Sekretaris Komisi B DPRD DKI, Nurmansyah Lubis, di sela-sela kunjungan ke Buddha Bar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 25 Maret 2009.
Kedatangan para wakil rakyat Jakarta ini untuk menindaklanjuti rapat kerja dewan tiga instansi. Rapat kerja bersama itu dihadiri Dewan Legislatif, Dinas Pariwisata, dan pengelola Buddha Bar.
“Buddha Bar ini sudah ada persetujuannya dari gubernur. Pengelola diberikan kepada pihak ketiga karena bangunan ini mempunyai nilai dan biaya yang tinggi. Jadi bukan hal yang aneh bila suatu bangunan bersejarah dikelola swasta,” ujar dia.
Jadi menurut Nurmansyah, penggunaan gedung sudah dengan ketentuan. Nurmansyah menilai, berdasarkan persetujuan dari gubernur atau pemerintah daerah bangunan dapat digunakan untuk rumah makan dan galeri.
“Kunjungan ini juga untuk menelusuri seberapa jauh pengelola Buddha Bar telah merenovasi dan menggunakan bangunan ini,” ujar dia.
Nurmansyah mengatakan, pengelola Buddha Bar memiliki posisi sebagai pihak ketiga alias penyewa lahan. Pengelola pun membayar aset pemanfaatan aset pemda. “Mereka menyewa lima tahun sebesar Rp 5 miliar,” kata dia.
Sumber:
http://metro.vivanews.com/news/read/43817-rp_100_miliar_untuk_renovasi_buddha_bar -
David ‘Naif’: Wajar Buddha Bar Diprotes
Posted on March 24th, 2009 No commentsNama Buddha Bar terlalu sensitif. David bilang, pemiliknya hebat berani ambil risiko.
Selasa, 24 Maret 2009, 08:19 WIB
Anindhita Maharrani, Beno JuniantoVIVAnews - Buddha Bar sudah dapat izin beroperasi. Walau protes dari Forum Anti Buddha Bar belum juga reda. David ‘Naif’ ikut buka suara perihal kisruh kafe antik itu.
Vokalis ‘Naif’ itu memuji keberanian pemilik Buddha Bar. Hal itu disampaikan David kepada VIVAnews dalam perbincangan di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, Senin 23 Maret 2009.
“Hebat lah pemiliknya. Karena pakai nama yang nggak biasa. Harusnya sih pakai nama yang biasa-biasa aja lah. Jadi nggak bakal repot diprotes,” kata David.
Wajar saja jika kafe di Jalan Teuku Umar, Menteng itu diserang protes. Walaupun David tahu, Buddha Bar hanya lah bisnis wara laba. Di beberapa negara seperti Amerika dan Prancis juga ada kafe bernama sama, namun tak diprotes orang.
“Jangan disamakan lah dengan Buddha Bar di negeri orang. Nama Buddha Bar terlalu SARA. Sensitif,” David berujar.
Sumber:
http://showbiz.vivanews.com/news/read/43260-david__naif___wajar_buddha_bar_diprotes




Recent Comments